Analog atau Digital ?

Iwan Mbah Spoor
Artikel oleh Iwan D. Irawanto, surabaya

Analog atau Digital ?!

Analog ! Pilihan sudah diputuskan. Meja dibangun, track dipasang. Menyusul system kelistrikan. Diujicoba – semua beres. Lancar. Seiring waktu, jumlah lokomotif dan gerbong bertambah. Saya berniat untuk memenuhi kelengkapan grup BNSF saja. Kini kurang dua roadname : Northern Pacific dan BNSF. Semata karena modelnya belum sesuai.

Tahun lalu, Bachmann Industries merilis DCC EZ. Harganya kejangkau kantong. Lok dijital standarnya, bahkan lebih murah dibanding produk analognya Athearn atau Atlas. Terobosan baru ? Tidak juga. DCC EZ adalah warisan Digital Lenz generasi I (basic). Dulu digunakan Roco Austria dengan nama Digital’s Cool. Melihat speknya, saya kepincut juga. Andai saya rubah, tidak ada yang sulit. Sistem kontrolnya tinggal diganti. Decoder tinggal nancepin. Sebagian lok memiliki colokan, yang kopongan bisa dicangkok. Bengkel kereta model di Cibadak, Bandung bisa merubah kurang dari sejam.

Rencana disusun. Inves terbesar pada decoder. Kalau harga disini 30 $, tinggal ngalikan jumlah lok. Sekarang ada 30 unit. Laaama coretan di kertas saya pandangi, tapi tak kunjung saya lanjuti. Uang bisa dicari, decoder bisa dibeli. Yang tidak saya temukan, justru alasannya, Kenapa harus merubah kalau tidak ada masalah mendasar? Selama ini, lima rangkaian di meja layout US HO berjalan baik2 saja. Lampu2nya berpendar cantik. Motornya bekerja mulus. Roda2nya menggelinding lancar menyusuri rel tanpa gangguan stroom loss sedikit pun. Lantas apa?

DCC basic hanya untuk perintah jalan, ngatur kecepatan, bunyi bel dan mati hidupkan lampu. DCC cangihlah yang memiliki tambahan fungsi sound sangat banyak. Dan…..tentu saja lebih mahal. Untuk melengkapinya, per unit lok harus disuntik 1,2 jutaan rupiah. Naaah……Selebihnya, rangkaian bergerak ditentukan jalur2 layout track.

iwand_photo_011.jpg

Sejak microchip ditanamkan pada replika kereta model sekitar tahun 90-an, wacana system kendali ini pun berubah. Produsen berlomba menawarkan fasilitas yang sama. Di Amerika dimotori Digitrax dan di Jerman dipandu Lenz dan Uhlenbrock. Hasilnya, berbeda beda. Ujung2nya, bukan hanya pehobi yang gundah – produsen pun bingung. Lantaran system satu dan lainnya, nggak nyambung. Dan produsen yang paling kacau, adalah Fleischmann. Usaha mempertaruhkan dijital FMZ nya buatan Uhlenbrock gagal total. Untuk menoleransi penggemar fanatiknya, akhirnya merilis Digital Twin yang dapat digunakan mengendalikan FMZ dan DCC. Setelah itu, produksi decoder FMZnya resmi dihentikan.

Pehobi juga sulit bersikap. Bertahan dengan analog atau pindah ke digital ? Desainer kondang Ivo Cordes di Jerman dan Lou Sassi di Amerika, lebih senang merekayasa layouttracknya ketimbang debat soal systemnya. Apapun kendalinya, kereta akan tetap berjalan di atas rel dan memang itu intinya.

Nambah pede, saya cari reference. Memang tidak satu pun produsen meninggalkan system analog. Sebaliknya, menciptakan DCC yang akrab dengan analog. Quantum Sound berfungsi baik di analog. Lebih ekstrimnya, produsen Broadway Limited dan Precision Craft merilis BlueLine. Loksound tanpa DCC. Mantap. Kertas berisi coretan2 rencana dijital, saya buang.

Meja layout DC saya berukuran 2,6 X 3,8 meter. Tiga lantai. Desain layoutnya, berdasar pada gabungan dua tali laso. Lingkar laso pertama di lantai I. Tali penghubungnya saya olor ke lantai II, menanjak dan menuju lingkaran laso di lantai III. Di satu tali penghubung itulah yang menjadi jalur running dan pusat station. Selebihnya, bercabang untuk servis area.

Dengan konfigurasi ini, saya menempatkan jalur stop and go by sinyal (SGS) di lantai I, dua jalur SGS di lantai II – untuk satu rangkaian menghadap ke kanan dan satu lagi menghadap ke kiri sebagai jalur2 station. Satu SGS lagi di lantai III. Ada 4 rangkaian bisa diparkir dan ready to run. Satu rangkaian lagi di jalur servis.

Rangkaian di jalur servis, saya gerakkan ke kanan dan menanjak ke lantai III. Membuka sinyal dan menggerakkan satu rangkaian di jalur SGS. Rangkaian ini berfungsi menutup sinyal dan membuka sinyal jalur SGS di lantai II. Rangkaian di lantai II bergerak ke lantai I dengan tugas yang sama dan sebaliknya. Sekali mengoperasikan trotle, ada 5 rangkaian yang bergerak bergantian di layout ini. Dilihat dari pusat station, rangkaian yang bergerak ke kanan, akan kembali ke titik awal dari kanan juga. Begitu seterusnya.

iwand_photo_02.jpg

Kalau ada rekan bertandang, saya persilakan duduk di kursi kendali. Melihat gerakan sejak awal dan biasanya terus berkomentar : “waaaah!..ini dijitel ya ? “(Iwan D)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Responses to “Analog atau Digital ?”

  1. indroNo Gravatar says:

    Sebenarnya, sistem analog justru lebih menyerupai sistem perjalanan kereta sebenarnya: hanya satu lokomotif diizinkan untuk berjalan dalam satu blok (dengan pengecualian di dipo, atau untuk gerakan langsir, tentunya).

    Misalnya untuk sebuah layout dengan jalur tunggal dengan stasiun tempat bersilang, tidak ada keharusan untuk menggunakan sistem digital; cukup dengan analog, asal sistem sinyal blok yang ada di layout tersebut sudah diset dengan baik.

    Apalagi teknologi modern sudah memungkinkan adanya chip suara analog, kita tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk mengkonversi lok-lok kita ke sistem digital hanya untuk mendengarkan suara.

    Namun sistem digital ini akan berguna bila hendak membuat layout berupa dipo, di mana banyak loko bergerak mondar-mandir tanpa menghiraukan sinyal, atau layout yang memiliki banyak gerakan langsir, dan juga layout di mana kita hendak menyambungkan loko dengan kecepatan yang berbeda. Dalam hal terakhir ini, kita bisa memanfaatkan kemampuan dekoder digital untuk mengatur kecepatan loko agar traksi ganda kita berjalan dengan baik, yaitu kedua lok bergerak dengan kecepatan sama.

  2. datyoNo Gravatar says:

    semangat saya yang kendor bisa kembali lagi kalo sudah lihat lay outnya pak Iwan.

  3. PranaNo Gravatar says:

    @Bung Iwan, artikelnya sangat menarik…

    Mungkin lain waktu bisa di posting artikel mengenai layout DC yang Bung Iwan miliki, lengkap dengan skemanya (gambar) dan koleksi apa saja yang dimiliki…Untuk menambah inspirasi penggemar kereta model lainnya…

    @Bung Hedwig
    Kayaknya perlu dibuat thread khusus tentang layout yang dimiliki penggemar KM&L Indonesia nih…hehe2..

    Hedwig™: Bravo! Bung Prana, saya memang sedang mengumpulkan layouter lokalan yang jumlahnya beragam :)

  4. AS.comNo Gravatar says:

    Pak Iwan, saya mahasiswa D3 TE, pengin tanya tentang sistem kelistrikan yang ada di artikel ini. pake apa kendalinya dikirimkan ke model? pake radio apa pake kabel? kalo pake kabel, kabelnya ada dimananya? terimakasih….

  5. hariNo Gravatar says:

    Mas Iwan. tolong dong diperjelas dengan Gambar skematiknya dan juga cara pengoperasiannya.Bab saya punya Model sistem Analog dan ingin bermain dengan banyak loco. Thanks

  6. kalaNo Gravatar says:

    mas iwan, dimana saya bisa beli yg udak jadi, tgl pake berikut acsoserisnya, second tp masih bagus gt lho, soalnya sy gak punya bakat rancang, thank,s ya mas iwan

  7. OkkeNo Gravatar says:

    Cak Iwan, jadi kalau aq mau desain meja dengan 4 loop lok cukup dengan analog ya? trus kalau ingin memulai koleksi bagusnya pakai starter set atau beli partnya satuan ?

    salam kenal sebelumnya,
    trims

    Hedwig™: Halo salam kenal juga, Desain 1 meja ukurannya berapa mas, kalo meja tamu mungkin pake scala N.
    Main di system analog bagi saya cukup menyenangkan, karena kaidah-kaidah perjalanan kereta api sebenarnya dapat dilakukan di sini, misalnya sinyal block, kereta silang, dll.

    Untuk memulai bisa dari starter-set karena harganya akan jatuh lebih murah, kelemahannya starter-set sudah terbentuk dalam 1 thema kereta jadi tidak bisa memilih lagi.
    Tapi apabila memiliki dana berlebih dapat membeli per satuan kereta api.

    Salam

  8. ElingNo Gravatar says:

    kamar saya bisa merangkap layout neh…..

  9. juraNo Gravatar says:

    salam kenal, tahun lalu saya beli marklin starter-set digital scala ho, terus saya nambah rel menjadi 2.5×1.5m dgn 3 jalur, lalu kereta tidak mau jalan, apa yg kurang mohon petunjuk dan saran supaya keretanya bisa jalan.
    terima kasih

    Hedwig™: Marklin menggunakan REL AC, ada titik-titik untuk ground di tengah rel. Jika disambung dengan rel DC, tentu saja gak jalan, coba cek dulu relnya.
    Salam

  10. WirawanNo Gravatar says:

    Salam kenal ,
    Mas Hedwig , kalau control unit digital merek marklin bisa dipakai untuk yang dc ngga ???
    trus transformer 52 VA merek marklin bisa dipakai untuk dc ngga ? mohon balasannya ..

    Hedwig™: Saya gak terlalu yakin bisa ya. Yang saya tahu, Marklin System sifatnya proprietary, dan belum tentu compatible dengan system lainnya.
    Salam kenal juga

  11. SugengNo Gravatar says:

    Salam kenal Pak Iwan
    Apa boleh tau alamatnya ? Disurabaya ? Sy mau memulai dan masih cari referensi sekalian mau nanya2 dulu (lihat model diorama)nya, mau pilih system analog apa digital ?
    Tks

  12. sugengNo Gravatar says:

    Salam,
    Tolong bantu kasih penjelasan, apa decoder digital yg dipasang pada loco, harus menggunakan merk yang sama dengan digital controllernya ? (satu manufacture) mis : digital decoder yg dikereta pakai merk Bachmann, trus DCC nya merk Hornby/Fleischmann dll atau sebaliknya…
    Terimakasih.

  13. dhion prasetyaNo Gravatar says:

    Buat Pak Sugeng,
    Enggak harus sama koq. Bisa apa aja,asal masih sama2 DCC dan enggak dipasang decoder AC punya Marklin pak.

  14. sugengNo Gravatar says:

    Trims Pak Dhion.
    Bisa kasih info dimana beli & pasang digital decoder & sekaligus beli DCC nya ? (harga yg nggak mahal2) sy punya 6 lok steam & 2 diesel Roco HO scale … (0878 5176 9999) Tks.

  15. Anda ChangNo Gravatar says:

    Hallo,
    Salam kenal untuk semua. Bagi rekan2 yang memerlukan decoder compatible untuk signal & switch (setara dengan k83 – Marklin),

    dapat menghubungi saya:
    Anda Chang (0838 2999 0888)

Leave a Reply