Happy 6th Anniversary IRPS
Juni 25th, 2008
Selamat ulang tahun IRPS semoga semakin sukses dengan program-program preservasinya dan semoga dapat menjaga kejayaan perkeretaapian di Indonesia.
Penggemar Kereta Api Model Indonesia

Selamat ulang tahun IRPS semoga semakin sukses dengan program-program preservasinya dan semoga dapat menjaga kejayaan perkeretaapian di Indonesia.
Seorang pecinta kereta api model sudah pasti senang berlama-lama berada di depan layoutnya sambil mengatur perjalanan kereta api dan sistem signal serta wesel-weselnya. Kadang mereka berada seharian di depan panel kontrol dan sibuk mengawasi setiap perjalanan yang ada. Waktu berjam-jam dihabiskan oleh para penggila kereta api ini, bahkan beberapa hanya berhenti untuk buang air dan makan atau minum.
Baru-baru ini pemerintah Indonesia tercinta melalui presiden telah dengan semena-mena menaikan harga BBM yang tentu saja berimbas ke seluruh komponen harga lainnya, salah satunya kenaikan harga pemakaian listrik.
Listrik adalah sumber daya utama bagi pecinta kereta model untuk dapat menggerakan kereta-kereta kecil itu meliuk-liuk di pegunungan buatan.
Tanpa disadari, modeler sebenarnya telah menghabiskan banyak pasokan listrik untuk bermain kereta api.
Sebagai contoh: Seorang modeler memiliki ruang layout yang diterangi dengan 5 buah lampu hemat energi berdaya masing-masing 20 Watt, 1 AC dengan kapasitas 800 Watt dan tentu saja kereta model serta aksesorinya, anggap saja setiap item kereta model memakan daya 20 Watt DC dan semua berjumlah 15 item (loco, signal, wessel, lampu, dll).
Lama bermain kereta model rata-rata 5 jam.
Dengan hitungan kasar, akan diperoleh angka pemakaian sebesar 800 + (20 x 5) + (20 x 15) = 1.200 Watt!. Setara dengan kapasitas rumah sederhana.
Dengan rata-rata pemakaian selama 5 jam, maka akan diperoleh nilai pemakaian energi sebesar: 1,2 KW x 6 = 7.2 KWH.
Jika harga listrik PLN yang masih subsidi adalah sebesar 500 Rupiah per KWH, maka selama bermain, si modeler akan menguras kantong sebanyak 3.650 Rupiah, kali setiap hari main selama sebulan, dia harus mbayar ke PLN sebesar 109.512 Rupiah. (TDL yang baru berapa ya?).
Selamat bermain, jangan lupa mbayar listrik ![]()
Mulai 29 April 2008, keretamodel.com bekerjasama dengan DeKoppel menyediakan merchandising railfans yang dapat dibeli online melalui internet.
Selengkapnya silahkan buka di http://www.dekoppel.keretamodel.com/

Artikel oleh Indra Krishnamurti
Belakangan ini para penggemar model kereta api Indonesia cukup dimanjakan dengan adanya banyak model lokomotif yang bisa diadaptasikan menjadi model prototipe yang ada di Indonesia - dengan harga yang relatif murah! Ya, anda bisa mendapatkan sebuah model U20C dengan harga sekitar Rp. 500 ribu, atau model G12 (A-1-A) dengan harga sekitar Rp. 750 ribu. Jauh di bawah harga model Kato atau Atlas, yang masih memerlukan banyak modifikasi agar bisa menjadi mirip dengan prototipe lokomotif Indonesia.
Kali ini saya akan membahas modifikasi model U20C dari Frateschi menjadi CC201. Modifikasi yang saya lakukan ini sederhana dan memakan waktu hanya tiga-empat jam saja.
Memang hasilnya tidak 100 persen akurat, tapi bisa dijamin bahwa semua penggemar kereta api Indonesia akan langsung bisa mengidentifikasi bahwa model yang barusan anda modifikasi ini adalah model CC201.
Dari kiri atas searah jarum jam: U20C yang tidak dimodifikasi, CC201, model U20C yang dicat PTKA tanpa diperpendek, artist impression of U20C yang diperpendek, CC201 putih.

Artikel oleh Iwan D. Irawanto, Surabaya
Rekan pemula berkunjung. Ia baru saja memiliki startset Maerklin dijital. Loknya klas V100 dan sejumlah gerbong barang. Obrolan digelar. Inilah asyiknya kongkow dengan rekan sehobi. Dalam perbincangan, selalu dan mestinya ada yang baru.
Ruang yang dimiliki, cukup untuk meja layout sekitar 2 X 2,5 meter. Kita gantian corat coret di potongan kertas bekas. Dia pingin layout begini, saya usul begitu. Saling ngisi lah. Lalu, saya terpana dengan paparan rencana dioramanya. Di atas meja, akan digelar karpet hijau – laksana padang rumput. Track ditata di atasnya. “Bagus kan ?”, tukasnya.
“Malah jelek banget”, kalimat ini, meluncur begitu saja dari mulut saya. Ia pun kaget. Bayangan diorama yang diangankan selama ini, terhapus begitu saja. Cepat dan bersih. Malah saya tambahi : “kalau itu yang Anda buat, akan menambah perbendaharaan layout jelek yang pernah saya lihat”.
Gambaran rekan tadi, bagi saya déjà vu.
Awal ngrintis hobi ini, rekan seangkatan nyuri start. Selagi saya masih bingung nyari2 referensi, ia sudah mbangun meja. Ukurannya 1,5 X 3,5 meter untuk skala N. Lembaran triplek ditata dan karpet hijau di gelar. Track dirangkai dan disusun. Track yang naik turun, ditopang tiang2 dan jembatan besi. Replika stasiun dan gedung2 diletakkan. Empat rangkaian dijalankan di jalur masing2. Bersilang arah…wuiih ramai. Setiap jalur, dikendalikan satu transformer. Murni boros enerji.
Konstruksi mejanya hebat. Sekelilingnya ditutup kaca. Di bagian2 tertentu, ada jendela2 kupu untuk perawatan. Selebihnya, dijamin bebas debu. Ia nggak sabar nunggu komentar : “bagus kan?!”. Saya nggak ngerti mau njawab apa ? Wong melangkah saja belum.
Mahami relhobi masih bab satu – alias baru niatan. Titik beratnya kemana, juga bingung. Ke tehnik atau diorama ? Semua masih sebatas mata memandang pada gambar2 yang bisa saya kumpulin. Dan sepanjang saya tahu, perwujudannya nggak seperti ini. Toh, saya nyoba nyambung : “waah bagus…rapi sekali”. Hidung saya mekar…tanda berbohong…(kalau Pinokio molor). Mestinya, saya bilang yang jelek itu jelek dan baik itu baik. Yaaa…. kita ini lebih rikuh pakewuh ketimbang jujurnya.
Apa yang saya lihat, begitu jauh dari proses olah kreatifitas. Semua serba kaku. Menjadi benda mati dalam kotak kaca. Andai dibawah kereta modelnya diberi tulisan biography, persis artefak di museum. Kereta model yang ada, tidak bermakna lagi. Padahal, replika ini ‘hidup’. Mewakili sejarah peradaban dan obsesi kita sendiri.

Saya yang sejak kecil kesengsem dengan steamlok, terbawa sampai sekarang. Kemana pun mata memandang gambar2 di buku katalog, baliknya nancep ke halaman steamlok. Ada memory yang telanjur nyangkut di situ…..Plus suasananya seperti yang pernah saya lihat di suatu masa. Malang sekitar ‘60an, di depan rumah ada jalur yang menghubungkan stasiun Blimbing ke Tumpang. Nggak salah ingat, loknya mirip klas 64. Nyeret gerbong penumpang dan barang. Isinya, pedagang hasil bumi. Yang diangkut ya gebokan daun pisang, ketela pohon dan lainnya. Saban lewat, saya nitip satu dua batang paku. Habis dilindas, jadilah keris atau pedang kecil….asyiik. Generasi muda, kecantol diesel dan elektriklok – bab model inilah yang dilihat sejak bayi procot….
Mau nggak mau, suasana sekitar yang melatarbelakangi ikut kebawa. Keramaian di stasiun, kota, kontour alam, kesibukan di gudang barang dan lain sebagainya.
Obsesi seperti inilah yang mendasari pengembangan hobi ini di mana pun. Menjadi pendorong berkekuatan besar bagi produsen kereta model dan aksesorinya. Mereka berlomba menjadi pencipta replika paling otentik. Roco yang pernah memperkecil skala gerbongnya menjadi 100, dimanfaatin Maerklin untuk nyerang balik dengan jargon baru : the real HO (87).
Ke otentikan skala, membuat satu produsen unggul dan lainnya tumbang. Ketidakseriusan Lifelike pada produk standar, membuatnya kehilangan pasar dan menyerahkan menejemennya ke grup Walthers. Begitu juga dengan Roundhouse yang pasrah bongkokkan ke Horizon yang sebelumnya mengakuisisi Athearn. Bachmann terpaksa memperbaiki parts2 nya agar lebih otentik lagi.
Di replika skeneri, tidak kalah seru. Busch, Faller dan Woodland Scenic bertarung habis2 an. Berlomba membuat foam terbaik, serbuk semen, rumput dan lainnya dengan jargon : paling otentik.
Saya ceritakan bahwa : impian membuat layout yang ‘otentik’ inilah yang membuat milis KML hidup. Ada yang begitu terobsesi dengan suasana di pelabuhan. Ada yang pingin sekhas daerahnya yang banyak ditumbuhi pohon pisang. Ada yang tekun menciptakan jembatan panjang seperti yang dilihatnya di kawasan Jawa Barat. Atau lainnya….
Diorama meja layout milik rekan pencuri start, kini sudah berubah. Karpet hijaunya diganti kontour2 berumput yang apik. Rekan baru, masih ingin memasang karpet – untuk sementara. “Gak masalah. Kalau ada pameran property, ikutin saja…he…he…he….”, bercanda (iwan- surabaya).
Foto : armawan
Bagi seorang railfans, kecintaan kepada kereta api tentu tidak terbatas. Begitu juga yang dilakukan oleh rekan Dwi Raharjo.
Orang yang satu ini memang dikenal cukup kreatif. Pekerjaannya sebagai ahli IT di sebuah perusahaan pelayaran internasional tidak menghalangi sifat kreatifnya yang tentu saja masih di seputar kecintaan kepada kereta api. Jika banyak modeler mengkoleksi berbagai jenis kereta api model dari berbagai merek, Dwi cukup memanfaatkan keahliannya di bidang komputer untuk menciptakan reka bentuk kereta api model dari kertas.

Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk membuat pola kereta api model dari kertas. Dengan bantuan perangkat lunak komputer grafis, berbagai jenis lokomotif, kereta penumpang dan lain sebagainya dapat diciptakan. Setelah gambar selesai dibuat, langkah berikutnya tinggal mencetaknya di kertas karton.
Mengunakan printer warna tentu saja menjadi lebih baik, karena kereta model dapat dibuat kaya warna.
Setelah tercetak dengan rapi, langkah yang dilakukan adalah menggunting. Kedengarannya mudah, tetapi ada beberapa model yang ternyata memiliki pola yang cukup rumit, sehingga mengguntingpun menjadi sebuah pekerjaan yang menyulitkan.
Sama seperti modeler yang membangun model dari model kit atau modeler yang senang merombak tampilan koleksi keretanya, berikutnya adalah merekatkan kertas-kertas yang sudah digunting tersebut dengan lem kertas. Beberapa lokasi perlu dilipat terlebih dahulu sebelum diberi lem.

Hasil akhir adalah sebuah kereta api model dari kertas yang dapat menghiasi meja kerja. Selain itu kegiatan menggunting, melipat dan menempel dapat juga dilakukan bersama dengan anak-anak, selain untuk mengajarkan kesabaran kepada anak-anak kita, menularkan kecintaan terhadap kereta api adalah sebuah kegiatan yang sangat positip.
Artikel oleh Indra Krishnamurti
Di wilayah DAOP IV, Semarang, Loko seri BB200 masih sering terlihat berkeliaran untuk menarik rangkaian atau sekedar sebagai lok langsir. Salah satu rangkaian yang masih dehela oleh lok seri ini adalah Kaligung Ekonomi, yang melayani rute Semarang Poncol - Tegal PP.
Sebagai seorang railfans yang menyukai bentuk lok lokal, ternyata dapat menikmati lok ini dari sebagai sebuah kereta model. Sekali lagi, produksi keluaran Frateschi yang harus rela dipermak sedikit untuk dapat menjadi lok BB200 yang khas Indonesia.
Untuk dapat memulainya, sebaiknya menyiapkan bahan-bahan dan peralatanberikut ini:

Artikel oleh Iwan D. Irawanto, surabaya
Analog atau Digital ?!
Analog ! Pilihan sudah diputuskan. Meja dibangun, track dipasang. Menyusul system kelistrikan. Diujicoba - semua beres. Lancar. Seiring waktu, jumlah lokomotif dan gerbong bertambah. Saya berniat untuk memenuhi kelengkapan grup BNSF saja. Kini kurang dua roadname : Northern Pacific dan BNSF. Semata karena modelnya belum sesuai.
Tahun lalu, Bachmann Industries merilis DCC EZ. Harganya kejangkau kantong. Lok dijital standarnya, bahkan lebih murah dibanding produk analognya Athearn atau Atlas. Terobosan baru ? Tidak juga. DCC EZ adalah warisan Digital Lenz generasi I (basic). Dulu digunakan Roco Austria dengan nama Digital’s Cool. Melihat speknya, saya kepincut juga. Andai saya rubah, tidak ada yang sulit. Sistem kontrolnya tinggal diganti. Decoder tinggal nancepin. Sebagian lok memiliki colokan, yang kopongan bisa dicangkok. Bengkel kereta model di Cibadak, Bandung bisa merubah kurang dari sejam.
Rencana disusun. Inves terbesar pada decoder. Kalau harga disini 30 $, tinggal ngalikan jumlah lok. Sekarang ada 30 unit. Laaama coretan di kertas saya pandangi, tapi tak kunjung saya lanjuti. Uang bisa dicari, decoder bisa dibeli. Yang tidak saya temukan, justru alasannya, Kenapa harus merubah kalau tidak ada masalah mendasar? Selama ini, lima rangkaian di meja layout US HO berjalan baik2 saja. Lampu2nya berpendar cantik. Motornya bekerja mulus. Roda2nya menggelinding lancar menyusuri rel tanpa gangguan stroom loss sedikit pun. Lantas apa?
DCC basic hanya untuk perintah jalan, ngatur kecepatan, bunyi bel dan mati hidupkan lampu. DCC cangihlah yang memiliki tambahan fungsi sound sangat banyak. Dan…..tentu saja lebih mahal. Untuk melengkapinya, per unit lok harus disuntik 1,2 jutaan rupiah. Naaah……Selebihnya, rangkaian bergerak ditentukan jalur2 layout track.

Sejak microchip ditanamkan pada replika kereta model sekitar tahun 90-an, wacana system kendali ini pun berubah. Produsen berlomba menawarkan fasilitas yang sama. Di Amerika dimotori Digitrax dan di Jerman dipandu Lenz dan Uhlenbrock. Hasilnya, berbeda beda. Ujung2nya, bukan hanya pehobi yang gundah – produsen pun bingung. Lantaran system satu dan lainnya, nggak nyambung. Dan produsen yang paling kacau, adalah Fleischmann. Usaha mempertaruhkan dijital FMZ nya buatan Uhlenbrock gagal total. Untuk menoleransi penggemar fanatiknya, akhirnya merilis Digital Twin yang dapat digunakan mengendalikan FMZ dan DCC. Setelah itu, produksi decoder FMZnya resmi dihentikan.
Pehobi juga sulit bersikap. Bertahan dengan analog atau pindah ke digital ? Desainer kondang Ivo Cordes di Jerman dan Lou Sassi di Amerika, lebih senang merekayasa layouttracknya ketimbang debat soal systemnya. Apapun kendalinya, kereta akan tetap berjalan di atas rel dan memang itu intinya.
Nambah pede, saya cari reference. Memang tidak satu pun produsen meninggalkan system analog. Sebaliknya, menciptakan DCC yang akrab dengan analog. Quantum Sound berfungsi baik di analog. Lebih ekstrimnya, produsen Broadway Limited dan Precision Craft merilis BlueLine. Loksound tanpa DCC. Mantap. Kertas berisi coretan2 rencana dijital, saya buang.
Meja layout DC saya berukuran 2,6 X 3,8 meter. Tiga lantai. Desain layoutnya, berdasar pada gabungan dua tali laso. Lingkar laso pertama di lantai I. Tali penghubungnya saya olor ke lantai II, menanjak dan menuju lingkaran laso di lantai III. Di satu tali penghubung itulah yang menjadi jalur running dan pusat station. Selebihnya, bercabang untuk servis area.
Dengan konfigurasi ini, saya menempatkan jalur stop and go by sinyal (SGS) di lantai I, dua jalur SGS di lantai II – untuk satu rangkaian menghadap ke kanan dan satu lagi menghadap ke kiri sebagai jalur2 station. Satu SGS lagi di lantai III. Ada 4 rangkaian bisa diparkir dan ready to run. Satu rangkaian lagi di jalur servis.
Rangkaian di jalur servis, saya gerakkan ke kanan dan menanjak ke lantai III. Membuka sinyal dan menggerakkan satu rangkaian di jalur SGS. Rangkaian ini berfungsi menutup sinyal dan membuka sinyal jalur SGS di lantai II. Rangkaian di lantai II bergerak ke lantai I dengan tugas yang sama dan sebaliknya. Sekali mengoperasikan trotle, ada 5 rangkaian yang bergerak bergantian di layout ini. Dilihat dari pusat station, rangkaian yang bergerak ke kanan, akan kembali ke titik awal dari kanan juga. Begitu seterusnya.

Kalau ada rekan bertandang, saya persilakan duduk di kursi kendali. Melihat gerakan sejak awal dan biasanya terus berkomentar : “waaaah!..ini dijitel ya ? “(Iwan D)
Di milis KM&L sebuah pesan telah membuat saya was-was di pagi hari, berita mengenai seorang railfans yang juga kolektor kereta api model harus dibawa ke rumah sakit karena ditemukan sudah lemas di kamarnya.
Saat makan siang, rekan railfans, Edy Mardijanto menelpon saya mengabarkan Pak Bambang Tjondro telah meninggal dunia.
Berita duka cita pasti akan membuat semua orang yang mendengarnya akan merasa terkejut luar biasa, apalagi almarhum masih menjawab email-email di miling list pada minggu sebelumnya. Tidak pernah terlintas pikiran buruk mengenai kondisi almarhum, dan hari ini, beliau telah menghadap Tuhan YME.
Selamat jalan Pak Bambang Tjondro, mohon maaf sebesar-besarnya, saya belum sempat sowan ke anda untuk mengabadikan seluruh koleksi bapak. Semoga Tuhan YME mengampuni seluruh kesalahan kita.

pf: images didapat dari email Kemas Yulius.
Sabtu 26 Januari 2008 mungkin dapat menjadi sebuah hari yang cukup istimewa bagi para pecinta kereta api model. Pak Hari Sungkari dengan dukungan oleh Pak Romzy sebagai ‘penguasa’ layout Trainz Cafe telah menyelenggarakan sebuah event yang sangat menarik, American Steam Parade.
Pertemuan kali ini sepertinya menjadi sebuah ajang pembuktian bagi para kolektor lokomotif uap untuk menunjukan koleksi kesayangan, selain itu juga menjadi sebuah kompetisi untuk dapat menarik satu rangkaian dengan jumlah lebih dari 20 kereta.
Para modeler telah menganggap layout yang dimiliki oleh Pak Romzy ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena dilengkapi dengan tikungan dan tanjakan yang cukup sukar dilalui apabila rangkaian kereta api dibuat dengan cukup panjang.
Siang ini, setidaknya ada 3 lokomotif model “Big Boy” dengan sistem DC Digital yang berlaga di layout ini. Sebuah formasi menarik saat dua buah lokomotif Big Boy menarik 26 kereta. Walaupun begitu, rangkaian ini tidak mampu menundukan ‘kekejaman’ layoutnya Pak Romzy, sehingga akhirnya beberapa kereta harus dilepas agar schema Big Boy dengan rangkaian kereta barang dapat memutari layout dengan baik.
Tidak kurang Pak Hari S harus merelakan Big Boy Trix nya mengalami kerusakan pada tangga akibat tergelincir dan menyerempet mulut terowongan.

Semakin sore semakin banyak modeler yang berdatangan dengan membawa beragam koleksinya, dan menjadikan suasana sore itu semakin menarik karena kita dapat melihat beragam bentuk american model ‘berkeliaran’ di sana.
Selain itu, salah satu railfans yang juga gemar membangun sendiri kereta modelnya, Indra Khrisnamurti, menunjukan koleksi terbarunya model kit BR52 dari Trumpeter. Skala statis 1:35 ini juga menarik perhatian para modeler lainnya karena memiliki detail yang sangat baik. Indra sendiri mengatakan bahwa ada beberapa bagian yang dia rubah sendiri untuk dapat disesuaikan dengan lokomotif aslinya, salah satunya adalah perangkat couplernya.

Tidak kalah juga datang dari rekan-rekan railfans yang tentu saja tidak lupa membawa kereta api khas Indonesia, dan setelah sesi American Steam selesai, layout kembali dikuasai oleh replika rangkaian babaranjang ala Sumatera Selatan.

*babaranjang: kereta batu bara rangkaian panjang.